Mencintai keikhlasan atau ikhlas dalam mencintai? Entah mana diantaranya itu yang tepat untuk menggambarkan apa yang dirasakan olehku.
Alangkah baiknya jikalau kita sudah mencingai keikhlasan sebelum ikhlas dalam mencintai. Karena ketika kita telah mencintai keikhlasan, apapun yang terjadi kita akan menerimanya dengan lapang dada. Percaya bahwa allah adalah maha penulis skenario terbaik. Ketika kita mulai menyayangi seseorang, perhatian kita akan kita curahkan lebih kepada dia yang kita sayang. Dannketika kita mulai mencintai seseorang, kita mulai mengabdikan diri kita pada dia yang kita cinta. Karena sejatinya, ketika kita sudah mengatakan cinta pada seseorang berarti kita telah siap untuk mengabdikan diri kita pada dia yang kita cinta itu.
Semakin lama kita bersamanya, mencintainya, timbul pertengkaran yang membuat kalian semakin mengerti satu sama lain. Semakin lama berhubungan kita menjadi saling memahami satu sama lain.
Namun ada satu hal yang pasti yang aku rasakan setelah sekian lama menjalani sebuah hubungan. Sadar atau tidak, kita semakin lama akan semakin ikhlas dengan apa yang dimiliki maupun apa yang terjadi pada pasangan kita.
Rasanya menerima saja apapun yang dia lakukan. Tapiiii bukan berarti kita tak pernah bersuara atau bahkan menentang. Pasrah dan ikhlas bagiku adalah dua hal yang berbeda. Ikhlas adalah ketika kita berusaha menerima apapun yang terjadi dan dimiliki oleh pasangan kita. Berusaha menerima dia sebagai pelenhkap hidup kita. Menerima dia sebagai tulang rusuk kita. Menerima dia sebagai penggenap iman kita.
Jumat, 21 April 2017
Selasa, 18 April 2017
Tentang pemuda yang ada dihati
Kali ini ku bercerita tentang lika likuku menjalani hari bersamamu. Bersama seseorang yang telah lama singgah dihati ini sejak saat itu. Sejak dia mulai mengungkapkan hal yang membuat hati ini satu, berpadu untuk menjalin rindu.
Menjalani ini semua bersamamu, pasti tidak lepas dari yang namanya perbedaan. Perbedaan itu setiap hari mewarnai kehidupan kita untuk melengkapi indahnya jalinan yang sudah terajut lama.
Hal yang aku takutkan adalah ketika tidak bisa memahamimu, membuatmu marah akan sikapku. Selalu tak kuasa ku untuk menahan air mata ketika kita sedang tak tertawa bahagia bersama.
Tapi satu hal yang aku tau, kita tak pernah bisa untuk berlama lama saling memendam amarah. Memiliki amarah kepada orang yang kita sayangi rasanya sungguh membuang waktu sekalipun ada perbedaan yang terjadi. Dan ketika perbedaan itu ada, kita selalu tak pernah betah untuk membuatnya semakin larut. Dan akhirnya, semua kembali untuk tertawa bahagia.
Aku ingin menjadi sosok wanita yang selalu melayani mu dengan sepenuh hati. Ketulusanku tak perlu kuucap, karena aku yakin kamupun tau tentang ketulusan yang aku beri padamu.
Kepadamu pemilik hati, tetaplah disisi walau kadang kita berselisih paham yang menyayat hati. Tapi percayalah hanya kamu yang aku inginkan untuk bersamaku meraih surganya nanti.
KepadaMu pemilik segala hati, mudahkan lah ia dalam menjalani hidupnya, menjadi pemuda yang tangguh jiwanya dan juga teguh imannya. Perbaikilah akhlaqnya agar kelak ia mampu menuntunku menuju jalanMu meraih jannahMu bersamanya. Perbaikilah aku agar aku pantas ketika kau pertemukanku dengannya
Sabtu, 15 April 2017
Jaga aku hingga saatnya tiba
Kali ini aku membawa sebuah cerita dari apa yang telah aku dengar dan dapatkan dari seorang ustad. Beliau memang menginspirasi, karena diusia mudanya sudah mampu memotivasi anak muda untuk bisa mengerti arti sebuah pernikahan. Indahnya sebuah pernikahan pasti membuat semua orang ingin segera menunaikannya. Terlalu banyak keberkahan didalamnya yang terlalu sayang jika kita terlambat untuk menyadarinya.
Bukan soal cepat atau terlambat. Tapi soal bagaimana kita sudah mampu untuk mempersiapkannya sejak awal. Jauh sebelum kita mendapatkan apapun atau siapa dia nanti. Karena semakin kita banyak belajar tentang itu, maka insyaallah akan semakin yakin dan siap bersikap dikala waktunya nanti.
Sebagai seorang perempuan, tentu memiliki cara yang berbeda dalam mempersiapkan semua ini. Belajar untuk menjadi wanita yang menjadi pandangan paling menyejukan. Wanita yang mampu menyenangkan dan melayani. Serta menjadi wanita yang patuh untuk mengabdi.
Kita sebagai wanita, persiapan kita adalah tentang bagaimana kita telah mengkomunikasikannya kepada sang maha cinta. Memperbaiki diri untuk mampu menjadi wanita terindah bagi yang terindah. Menjadi wanita yang cerdas unthk menjadi madrasah bagi anak anaknya kelak. Dan selalu berdoa serta mendoakan dia yang sedang mendoakan kita pula, walaupun entah itu siapa. Mendoakan agar dimudahkan dalam setiap langkah. Serta berdoa akgar mampu diberi kesabaran selama dalam masa menunggu waktu itu tiba sampai ikrar itu terucap.
Sungguh ku merindukan saat dimana aku mampu menunaikan sunah sunah yang akan kita lakukan bersama kelak untuk menuju surga. Terbayang akan keromantisan keluarga rasulullah. Tidak menjadikan dunia sebagai masa depan, melainkan menjadikan dunia sebagai penghubung pada masa yang kekal.
Ku doakan engkau agar senantiasa diberi kekuatan untuk mampu memperbaiki diri dan memperjuangkan apa ingin diperjuangkan. Meraih apa yang harus kau raih sebelum engkau mampu meraihku.
Semoga allah memudahkan jalanmu untuk menemukanku. Begitu pula aku, semoga allah senantiasa mendengar untuk memudahkan jalanku untuk bertemu denganmu.
Bukan soal cepat atau terlambat. Tapi soal bagaimana kita sudah mampu untuk mempersiapkannya sejak awal. Jauh sebelum kita mendapatkan apapun atau siapa dia nanti. Karena semakin kita banyak belajar tentang itu, maka insyaallah akan semakin yakin dan siap bersikap dikala waktunya nanti.
Sebagai seorang perempuan, tentu memiliki cara yang berbeda dalam mempersiapkan semua ini. Belajar untuk menjadi wanita yang menjadi pandangan paling menyejukan. Wanita yang mampu menyenangkan dan melayani. Serta menjadi wanita yang patuh untuk mengabdi.
Kita sebagai wanita, persiapan kita adalah tentang bagaimana kita telah mengkomunikasikannya kepada sang maha cinta. Memperbaiki diri untuk mampu menjadi wanita terindah bagi yang terindah. Menjadi wanita yang cerdas unthk menjadi madrasah bagi anak anaknya kelak. Dan selalu berdoa serta mendoakan dia yang sedang mendoakan kita pula, walaupun entah itu siapa. Mendoakan agar dimudahkan dalam setiap langkah. Serta berdoa akgar mampu diberi kesabaran selama dalam masa menunggu waktu itu tiba sampai ikrar itu terucap.
Sungguh ku merindukan saat dimana aku mampu menunaikan sunah sunah yang akan kita lakukan bersama kelak untuk menuju surga. Terbayang akan keromantisan keluarga rasulullah. Tidak menjadikan dunia sebagai masa depan, melainkan menjadikan dunia sebagai penghubung pada masa yang kekal.
Ku doakan engkau agar senantiasa diberi kekuatan untuk mampu memperbaiki diri dan memperjuangkan apa ingin diperjuangkan. Meraih apa yang harus kau raih sebelum engkau mampu meraihku.
Semoga allah memudahkan jalanmu untuk menemukanku. Begitu pula aku, semoga allah senantiasa mendengar untuk memudahkan jalanku untuk bertemu denganmu.
Kamis, 13 April 2017
Menunggu akan indah ketika tahu apa yang kita tunggu
Kalau ditanya soal menunggu, aku yakin semua orang tidak suka untuk menunggu. Kalau tidak suka, tapi kenapa sampai saat masih banyak yang mau untuk menunggu?
ya, tidak suka bukan berarti kita tidak mau. Ada yang mau menunggu karena itu adalah pilihan. Menunggu hanya diperuntukan bagi orang orang mengerti tentang kesabaran akan sebuah hasil yang lebih indah saat ini. Menunggu tidak selama membosankan. Masih banyak hal hal lain yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu menunggu kita.
Ada berbagai macam alasan orang orang mau menunggu. Ada yang menunggu untuk bertahan, ada yang menunggu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, dan ada yang menunggu karena mereka tidak punya pilihan lain.
Beruntunglah kalian yang rela menunggu untuk bertahan dan mendapat sesuatu yang lebih baik. Karena tidak akan ada kesia siaan di dalamnya.
Begitupun aku, yang rela menunggu dia yang dikirimkan oleh Dia kepadaku. Menjemputku dengan gagah dengan segala keindahan akhlaqnya. Yang akan membawaku ke dalam indahnya taman surga. Dia yang selalu mengajaku kepada kebaikan. Dia yang selalu mengingatkanku akan hal yang tak baik dilakukan.
Itu semua rela untuk aku lakukan. Ya, untuk menunggu.
Menunggu waktu tempat sosok pemuda itu datang. Menunggu untuk sesuatu yang lebih baik bukanlah hal yang sia sia.
Untuk laki laki yang nanti akan menjemputku
Persiapkanlah dirimu sampai saatnya tuhan dan semesta menemukan kita
Persiapkan bekalmu untuk menjemputku yang jauh disini
Begitupun aku, aku akan bersiap untuk menunggu kau menjemputku
Aku juga akan menyiapkan bekalku agar aku pantas ketika sudah saatnya bertemu denganmu
Tak perlu tergesa gesa, lakukanlah yang terbaik dan penuh keridhoanNya
Karena aku akan tetap menunggumu
ya, tidak suka bukan berarti kita tidak mau. Ada yang mau menunggu karena itu adalah pilihan. Menunggu hanya diperuntukan bagi orang orang mengerti tentang kesabaran akan sebuah hasil yang lebih indah saat ini. Menunggu tidak selama membosankan. Masih banyak hal hal lain yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu menunggu kita.
Ada berbagai macam alasan orang orang mau menunggu. Ada yang menunggu untuk bertahan, ada yang menunggu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, dan ada yang menunggu karena mereka tidak punya pilihan lain.
Beruntunglah kalian yang rela menunggu untuk bertahan dan mendapat sesuatu yang lebih baik. Karena tidak akan ada kesia siaan di dalamnya.
Begitupun aku, yang rela menunggu dia yang dikirimkan oleh Dia kepadaku. Menjemputku dengan gagah dengan segala keindahan akhlaqnya. Yang akan membawaku ke dalam indahnya taman surga. Dia yang selalu mengajaku kepada kebaikan. Dia yang selalu mengingatkanku akan hal yang tak baik dilakukan.
Itu semua rela untuk aku lakukan. Ya, untuk menunggu.
Menunggu waktu tempat sosok pemuda itu datang. Menunggu untuk sesuatu yang lebih baik bukanlah hal yang sia sia.
Untuk laki laki yang nanti akan menjemputku
Persiapkanlah dirimu sampai saatnya tuhan dan semesta menemukan kita
Persiapkan bekalmu untuk menjemputku yang jauh disini
Begitupun aku, aku akan bersiap untuk menunggu kau menjemputku
Aku juga akan menyiapkan bekalku agar aku pantas ketika sudah saatnya bertemu denganmu
Tak perlu tergesa gesa, lakukanlah yang terbaik dan penuh keridhoanNya
Karena aku akan tetap menunggumu
Rabu, 12 April 2017
Malaikat tanpa sayap
Ketika lelah berupa menjadi lillah..
Kupersembahkan lelah ini untuk orang-orang yang mengasihiku. Apa yang aku lakukan sekarang ini belum seberapa. Bukan apa apa jika dibandingkan lelah apa yang sudah mereka lakukan.
Pernahkah kalian berfikir bagaimana mereka telah membawamu sampai pada titik ini?apa saja yang telah mereka korbankan untuk kalian hingga saat ini?
Aku sadar bahwa aku takan menjadi apa apa bahkan siapa siapa jika aku tanpa mereka. Memang benar adanya tentang malaikat tanpa sayap itu.
Orang tua, saudara, dan orang orang yang mengasihi kita. Yang tak pernah meninggalkan kita disaat yang lain mulai mencoba menjauhkan diri dari kita. Mereka adalah tempat dimana kita kembali. Tempat yang selalu terbuka pintunya ketika tempat tempat lain menutup diri untuk kita. Orang yang selalu meninggikan kita disaat yang lain memandang rendah kita.
Malaikat tanpa sayap. Mereka yang mampu menjaga kita di dunia ini. Mereka yang selalu ada ketika kita butuh. Mereka yang selalu membuka hatinya ketika yang lain menutup mata. Mereka yang selalu tersenyum pada kita ketika yang lain mulai tak acuh pada kita.
Kupersembahkan lelah ini untuk orang-orang yang mengasihiku. Apa yang aku lakukan sekarang ini belum seberapa. Bukan apa apa jika dibandingkan lelah apa yang sudah mereka lakukan.
Pernahkah kalian berfikir bagaimana mereka telah membawamu sampai pada titik ini?apa saja yang telah mereka korbankan untuk kalian hingga saat ini?
Aku sadar bahwa aku takan menjadi apa apa bahkan siapa siapa jika aku tanpa mereka. Memang benar adanya tentang malaikat tanpa sayap itu.
Orang tua, saudara, dan orang orang yang mengasihi kita. Yang tak pernah meninggalkan kita disaat yang lain mulai mencoba menjauhkan diri dari kita. Mereka adalah tempat dimana kita kembali. Tempat yang selalu terbuka pintunya ketika tempat tempat lain menutup diri untuk kita. Orang yang selalu meninggikan kita disaat yang lain memandang rendah kita.
Malaikat tanpa sayap. Mereka yang mampu menjaga kita di dunia ini. Mereka yang selalu ada ketika kita butuh. Mereka yang selalu membuka hatinya ketika yang lain menutup mata. Mereka yang selalu tersenyum pada kita ketika yang lain mulai tak acuh pada kita.
Selasa, 11 April 2017
Sajak tentang setia
Pernah kudengar sajak tentang kesetiaan. Bahwa setia bukan lah dia yang tidak pernah tergoda, tapi setia adalah dia yang ketika tergoda dia tau tempat dimana ia kembali. Seperti kata adila darma, rumah tidak hanya empat dinding yang dijadikan satu, kadang kala rumah adalah seseorang yang membuat kita merasa ingin kembali.
Dulu.. Jauh sebelum ini, sebelum ku baca sajak itu. Aku berfikir bahwa setia adalah dirimu yang selalu memandangku. Tak pernah sedikitpun goyah karena sesuatu. Apapun yang terjadi dirimu akan tetap memandangku. Tak peduli bagaimana kenyataan yang menghampiri. Bagaimana indah dan banyaknya yang menginginkan dirimu. Itulah setia menurutku dulu.
Tapi setelah kubaca sajak tentang kesetiaan itu, kini aku tau bahwa dirimu memang benar setia. Banyaknya yang menginginkan dirimu. Saat hatimu mulai tergoyah, kamu tau bahwa aku adalah tempatmu kembali.
Pernah memang kita salah, kusalah memahamimu dan kau salah dengan perbuatanmu. Tapi aku yakin hatimu satu. Satu dan untuk diriku. Tinggal harapan kepadaNya lah agar kita mampu menjadi satu. Beradu rindu dalam lantunan doa yang syahdu.
Percayalah tentang ini, tentang kesetiaan yang kita miliki. Mungkin kita tak pernah berjanji untuk selalu menemani disisi. Tapi tetaplah berusaha demi kita agar Allah dan semesta merestui.
Dulu.. Jauh sebelum ini, sebelum ku baca sajak itu. Aku berfikir bahwa setia adalah dirimu yang selalu memandangku. Tak pernah sedikitpun goyah karena sesuatu. Apapun yang terjadi dirimu akan tetap memandangku. Tak peduli bagaimana kenyataan yang menghampiri. Bagaimana indah dan banyaknya yang menginginkan dirimu. Itulah setia menurutku dulu.
Tapi setelah kubaca sajak tentang kesetiaan itu, kini aku tau bahwa dirimu memang benar setia. Banyaknya yang menginginkan dirimu. Saat hatimu mulai tergoyah, kamu tau bahwa aku adalah tempatmu kembali.
Pernah memang kita salah, kusalah memahamimu dan kau salah dengan perbuatanmu. Tapi aku yakin hatimu satu. Satu dan untuk diriku. Tinggal harapan kepadaNya lah agar kita mampu menjadi satu. Beradu rindu dalam lantunan doa yang syahdu.
Percayalah tentang ini, tentang kesetiaan yang kita miliki. Mungkin kita tak pernah berjanji untuk selalu menemani disisi. Tapi tetaplah berusaha demi kita agar Allah dan semesta merestui.
Senin, 10 April 2017
Siraman jiwa
"yang mewah memang bisa didapatkan dengan cepat, tapi ingat yang berkah bisa membawamu pada akhirat"
Satu hari itu 24 jam, tapi apakah kita memaksimalkan waktu tersebut dengan baik?coba kita runtut dari pagi.
Subuh 10 menit, mandi dan ganti pakaian 20 menit, sekolah 7 jam, duha 10 menit, sholat dhuhur 10 menit, ashar 10 menit, magrib dan ngaji 15 menit, isya 10 menit, tidur? 8 jam. Sudah ada 16 jam 25 menit, masih sisa 7 jam 35 menit. Kamu gunakan untuk apa waktu sebanyak itu?
Kadang tanpa kita sadari, dari pagi hingga malam tiba-tiba rasanya langsung habis begitu saja waktu yang kita lalui. Entah apa yang kita kerjakan dan manfaat apa yang kita dapatkan pada hari itu. Mungkin kita perlu menyediakan sedikit waktu setiap harinya untuk kita merefleksikan diri kita. Meruntut dari awal apa saja yang kuta kerjakan dari larut pagi hingga malam tiba.
Mediasi..
ya diri kita juga butuh mediasi. Terlebih lagi jiwa kita. Jiwa kita juga perlu untuk direfleksikan. Jangan kita biarkan jiwa kita kering tanpa pernah kita sirami. Bayangkan saja jika jiwa kita kering, panas bukan? Kita saja yang tiap hari ada matahari takut panas, bagaimana dengan hati yang sejatinya adalah hal yang paling dekat dengan manusia. Hal yang mewakili diri manusia. Kalau hati kita kering, bagaimana cerminan diri kita?
Ingat masih ada 7 jam 35 menit yang belum termanfaatkan. Sisihkanlah setidak beberapa menit ataupun jam untuk menyirami jiwa kita. Siraman itu bukan air, tapi adalah siraman kedamaian yang kita kucurkan dari indera indera kita. Siraman bisikan indah dari telinga kita, siraman ucapan indab dari mulut kita, siraman perbuatan indah dari tangan dan kaki kita. Langkahkan kakimu ketempat baik baik, karena ia juga yang menentukan bagaimana jiwamu akan kau sirami.
Minggu, 09 April 2017
Salah tidak selamanya salah
Pernah menjadi seseorang yang salah bukanlah suatu hal yang salah. Tidak ada orang yang belum pernah melakukan kesalahan satu kali pun di dalam hidupnya. Tak mengapa dulu pernah salah, yang terpenting sekarang bisa terarah.
Kadang dengan pernah melakukan kesalahan, kita menjadi tahu apa yang selama ini menjadi kendala dalam hidup kita. Memperbaiki yang salah dan menjalaninya menjadi lebih baik. Namun tak jarang pula kita kembali jatuh di lubang yang sama. Melakukan kesalahan yang sama tanpa mencoba untuk belajar darinya.
Seperti aku yang sedang dalam rangkaian kisah dari masa lalu. Mencoba mengulang kembali cerita yang dulu telah layu. Merangkak dan berkembang untuk bisa hidup bersamamu.
Aku yang tidak pernah bisa untuk berpaling, membuatku kembali jatuh pada jalan yang sama. Harusnya aku bisa untuk belajar dari kesalahan masa lalu. Kesalahan untuk bersama laki-laki sepertimu. Bukan karena manusianya yang aku salahkan, tapi karena hubungan yang belum ada ikatan. Memang wanita mudah sekali untuk luluh pada pujian. Aku yang tadinya mampu untuk tidak mengulangi kesalahan itu, kemudian tergoyahkan oleh satu kalimat saja.
"Maafkan aku"
Atau
"Kembalilah"
Wanita memang sudah terlahir dengan segala kelembutan hatinya. Tapi apakah dengan segala kelembutannya itu berarti wanita tak mampu untuk bersikap?
Bukan, bukan begitu
Hai wanita, kita memang terlahir untuk begitu peka terhadap perasaan. Bukanlah perasaan pekamu dengan sesama manusia yang kau besarkan. Tapi besarkanlah perasaanmu pada penciptamu. Karena dengan itu, kau tidak akan pernah jatuh dilubang yang sama. Sekalipun engkau akan jatuh lagi, yakinlah itu jatuh pada lubang yang ada di depan sana.
Kokohkan hatimu, kuatkan tekadmu untuk menjadi wanita yang baik. Menjadi wanita terindah untuk seseorang terindahmu. Perubahan yang sudah kamu bangun, jangan kau runtuhkan hanya dengan satu bisikan indah dari kalimat yang belum seharusnya kamu dengar. Karena, pernah ada pepatah
"Hijrah terbesar wanita terjadi ketika ia disakiti, dan hijrah seorang wanita akan kembali goyah ketika ia mulai dipuji kembali"
Nasihat ini bukan hanya untuk kalian, tapi juga untuk diriku sebagai wanita yang berkeingin menjadi lebih baik.
Kadang dengan pernah melakukan kesalahan, kita menjadi tahu apa yang selama ini menjadi kendala dalam hidup kita. Memperbaiki yang salah dan menjalaninya menjadi lebih baik. Namun tak jarang pula kita kembali jatuh di lubang yang sama. Melakukan kesalahan yang sama tanpa mencoba untuk belajar darinya.
Seperti aku yang sedang dalam rangkaian kisah dari masa lalu. Mencoba mengulang kembali cerita yang dulu telah layu. Merangkak dan berkembang untuk bisa hidup bersamamu.
Aku yang tidak pernah bisa untuk berpaling, membuatku kembali jatuh pada jalan yang sama. Harusnya aku bisa untuk belajar dari kesalahan masa lalu. Kesalahan untuk bersama laki-laki sepertimu. Bukan karena manusianya yang aku salahkan, tapi karena hubungan yang belum ada ikatan. Memang wanita mudah sekali untuk luluh pada pujian. Aku yang tadinya mampu untuk tidak mengulangi kesalahan itu, kemudian tergoyahkan oleh satu kalimat saja.
"Maafkan aku"
Atau
"Kembalilah"
Wanita memang sudah terlahir dengan segala kelembutan hatinya. Tapi apakah dengan segala kelembutannya itu berarti wanita tak mampu untuk bersikap?
Bukan, bukan begitu
Hai wanita, kita memang terlahir untuk begitu peka terhadap perasaan. Bukanlah perasaan pekamu dengan sesama manusia yang kau besarkan. Tapi besarkanlah perasaanmu pada penciptamu. Karena dengan itu, kau tidak akan pernah jatuh dilubang yang sama. Sekalipun engkau akan jatuh lagi, yakinlah itu jatuh pada lubang yang ada di depan sana.
Kokohkan hatimu, kuatkan tekadmu untuk menjadi wanita yang baik. Menjadi wanita terindah untuk seseorang terindahmu. Perubahan yang sudah kamu bangun, jangan kau runtuhkan hanya dengan satu bisikan indah dari kalimat yang belum seharusnya kamu dengar. Karena, pernah ada pepatah
"Hijrah terbesar wanita terjadi ketika ia disakiti, dan hijrah seorang wanita akan kembali goyah ketika ia mulai dipuji kembali"
Nasihat ini bukan hanya untuk kalian, tapi juga untuk diriku sebagai wanita yang berkeingin menjadi lebih baik.
Senin, 03 April 2017
Lisan yang tak mampu terjaga
Pernahkah kalian ingin menyampaikan sesuatu namun tak dapat tersampaikan dengan baik?
Bukan karen waktu yang tidak tepat, ataupun keadaan yang kurang mendukung, tapi kesalahan itu karena ketidak mampuan kita mengutarakan apa yang kita inginkan dengan baik. Hal itu sering ku alami dan terjadi antara aku kepada orang orang tersayangku. Karena lisanku yang tak mampu berucap dengan benar, hati orang orang yang kusayangi tersakiti olehnya. Betapa sakitnya kita.. Sakit ini jauh lebih sakit dari orang yang salah mengerti maksud kita. Sungguh sakit ketika apa yang kita sampaikan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ditambah lagi ucapan itulah yang jadi penyebab orang orang tersayang kita terluka.
Andai mereka mengerti betapa sulitnya untuk menyampaikan. Tak pernah terbesit niat sedikitpun untuk menyakiti orang terdekat kita. Siapapun itu pasti akan memperlakukan orang yang ia sayang dengan sebaik baiknya. Menempatkannya pada tempat terindah didalam hatinya. Memperlakukannya sebagaimana ia ingin diperlakukan.
Kadang kita tak pernah sadar, betapa tajamnya lisan kita mampu menyakiti perasaan orang lain. Sengaja ataupun tidak, ada saja satu dua kata yang tak pantas kita ucapkan. Lisan kita bagai dua mata pisau yang berlawanan. Di satu sisi ia tajam dan mampu menyakiti hati orang lain. Dan di sisi lainnya dengan lisan kita mampu membahagiakan orang orang tersayang kita dengan perkataan yang lembut, penuh kasih, dan menyejukan.
Maafkan aku..
Maafkan aku yang sering tak mampu menjaga lisanku
Hingga kau sempat berfikir pergi dan tak mampu lagi meyakiniku
Percayalah, bukan itu yang ingin kuutarakan sesungguhnya
Sungguh tak inginku mengulanginya lagi dan lagi
Tapi aku takut aku tak mampu menjaga lisanku lagi
Sungguuh takuut..
Tetaplah bertahan dan selalu disisi
Melangkah bersama, tertawa dan saling mengisi
.
ya tuhan, jagalah orang orang tersayangku
jangan sakiti hati mereka dengan lisanku maupun perbuatanku
perlakukanlah mereka lembut dan dengan kasihMu
.
"Kadang lisanku tak mampu menjagamu, tapi mengertilah itu bukan niat inginku. Tetaplah disisi, dan melangkah bersamaku"
Bukan karen waktu yang tidak tepat, ataupun keadaan yang kurang mendukung, tapi kesalahan itu karena ketidak mampuan kita mengutarakan apa yang kita inginkan dengan baik. Hal itu sering ku alami dan terjadi antara aku kepada orang orang tersayangku. Karena lisanku yang tak mampu berucap dengan benar, hati orang orang yang kusayangi tersakiti olehnya. Betapa sakitnya kita.. Sakit ini jauh lebih sakit dari orang yang salah mengerti maksud kita. Sungguh sakit ketika apa yang kita sampaikan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ditambah lagi ucapan itulah yang jadi penyebab orang orang tersayang kita terluka.
Andai mereka mengerti betapa sulitnya untuk menyampaikan. Tak pernah terbesit niat sedikitpun untuk menyakiti orang terdekat kita. Siapapun itu pasti akan memperlakukan orang yang ia sayang dengan sebaik baiknya. Menempatkannya pada tempat terindah didalam hatinya. Memperlakukannya sebagaimana ia ingin diperlakukan.
Kadang kita tak pernah sadar, betapa tajamnya lisan kita mampu menyakiti perasaan orang lain. Sengaja ataupun tidak, ada saja satu dua kata yang tak pantas kita ucapkan. Lisan kita bagai dua mata pisau yang berlawanan. Di satu sisi ia tajam dan mampu menyakiti hati orang lain. Dan di sisi lainnya dengan lisan kita mampu membahagiakan orang orang tersayang kita dengan perkataan yang lembut, penuh kasih, dan menyejukan.
Maafkan aku..
Maafkan aku yang sering tak mampu menjaga lisanku
Hingga kau sempat berfikir pergi dan tak mampu lagi meyakiniku
Percayalah, bukan itu yang ingin kuutarakan sesungguhnya
Sungguh tak inginku mengulanginya lagi dan lagi
Tapi aku takut aku tak mampu menjaga lisanku lagi
Sungguuh takuut..
Tetaplah bertahan dan selalu disisi
Melangkah bersama, tertawa dan saling mengisi
.
ya tuhan, jagalah orang orang tersayangku
jangan sakiti hati mereka dengan lisanku maupun perbuatanku
perlakukanlah mereka lembut dan dengan kasihMu
.
"Kadang lisanku tak mampu menjagamu, tapi mengertilah itu bukan niat inginku. Tetaplah disisi, dan melangkah bersamaku"
Minggu, 02 April 2017
Ayo berjilbab :)
Bagi kita yang hidup di jaman serba canggih saat ini menganggap tidak mengikuti gaya ataupun tren dunia merupakan suatu ketertinggalan. Terlalu banyaknya tren yang berkembang membuang seseorang menjadi terhanyut pada sebuah tren yang belum tentu membawa banyak manfaat untuk dirinya. Ada banyak budaya maupun kebiasaan yang ada dilingkungan kita. Tapi karena sebagai seorang perempuan, tentu lebih tertarik untuk membahas tren perempuan.
Apa yang identik dari perempuan?
ya, hijab
Siapa yang menyangka bahwa hijab merupakan hal ternyaman untuk kita pakai sebagai perempuan. Ini bukanlah tren, tapi ini adalah keharusan.
Dulu jauh sebelum ini aku termasuk anak muda yang lalai. Lalai untuk tidak memakai jilbab.
Jaman-jaman sekolah pakai jilbab cuma kalau pelaharan agama. Ga update, anak pesantren, dan bla bla bla alasan buat ga pake kerudung. Bisa dihitung dan diliat memakai kerudung hanya pada saat saat tertentu saja.
Namun perjalananku disini membuat Allah menuntunku lebih baik.
Berawal dari rasa malu karena pada saat masa masa pendaftaran kuliah merasa"kok kebanyakan perempuannya pakai kerudung?". Dan bapakku lah orang pertama yang membuatku sadar untuk mulai menutup penampilanku. Pernah bapak menyampaikan "malu lah, liat tuh mereka rapi rapi pakai kerudung, besok daftarnya pakai kerudung ya".
Ya, dari situlah awal perubahanku. Aku percaya proses itu ada. Karena dari pertama ku memakai hijab sampai sekarang perubahan sangat jauuuhh aku rasakan. Awal pertama yang masih memakai celana ketat, jilbab terawang, dan ala kadarnya memakai jilbab tren saat itu. Namun semakin kesini, mulai merasa nyaman dengan rok, dengan jilbab yang tebal, jilbab yang panjang, dan sampai sekarang nyaman dengan pakaian seperti ini, yang sapai sampai teman temanku bilang itu baju kedrombrongan alias kebesaran hahahah
Ya itu lah proses, proses dimana perlahan aku mulai menemukan hal ternyaman. Aku pun tidak sedang merendahkan teman temanku yang belum memakai jilbab. Hanya saja, mungkin Allah belum datangkan hidayah untuknya. Aku yang sekarang ini pun, masih jauh dari yang baik. Masih banyak proses proses selanjutnya yang harus aku lalui. Memang panjang, tapi aku begitu menikmatinya. Untuk teman temanku yang jauh lebih baik dariku, ajaklah aku pada kebaikan diri dan perbaikan diri. Untuk teman temanku yang belum dihidayahkan Allah, semoga kelak kita dalam satu proses yang sama. Doakanlah teman teman kalian agar bisa berproses bersama.
Percayalah, akan kalian temukan berbagai kenyamanan ketika kalian sudah sampai pada proses ini.
Kalian akan lebih dihargai, dan terjaga kesehatannya.
Tapi satu hal pula yang ingin kusampaikan bahwa tentu ada banyak orang orang yang mendorongku untuk mampu sampai di proses ini. Jadi, selalu ajaklah temanmu untuk berproses dalam kebaikan. Bukankan bersama dalam hal kebaikan adalah hal yang menyenangkan?
" doakanlah saudarimu yang belum mendapat hidayahNya untuk menutup auratnya, doakanlah saudarimu yang masih dalam proses menuju kebaikan, doakanlah saudarimu yang sudah baik menurutmu untuk meng istiqomahkan apa yang sudah dia capai dalam prosesnya"
Apa yang identik dari perempuan?
ya, hijab
Siapa yang menyangka bahwa hijab merupakan hal ternyaman untuk kita pakai sebagai perempuan. Ini bukanlah tren, tapi ini adalah keharusan.
Dulu jauh sebelum ini aku termasuk anak muda yang lalai. Lalai untuk tidak memakai jilbab.
Jaman-jaman sekolah pakai jilbab cuma kalau pelaharan agama. Ga update, anak pesantren, dan bla bla bla alasan buat ga pake kerudung. Bisa dihitung dan diliat memakai kerudung hanya pada saat saat tertentu saja.
Namun perjalananku disini membuat Allah menuntunku lebih baik.
Berawal dari rasa malu karena pada saat masa masa pendaftaran kuliah merasa"kok kebanyakan perempuannya pakai kerudung?". Dan bapakku lah orang pertama yang membuatku sadar untuk mulai menutup penampilanku. Pernah bapak menyampaikan "malu lah, liat tuh mereka rapi rapi pakai kerudung, besok daftarnya pakai kerudung ya".
Ya, dari situlah awal perubahanku. Aku percaya proses itu ada. Karena dari pertama ku memakai hijab sampai sekarang perubahan sangat jauuuhh aku rasakan. Awal pertama yang masih memakai celana ketat, jilbab terawang, dan ala kadarnya memakai jilbab tren saat itu. Namun semakin kesini, mulai merasa nyaman dengan rok, dengan jilbab yang tebal, jilbab yang panjang, dan sampai sekarang nyaman dengan pakaian seperti ini, yang sapai sampai teman temanku bilang itu baju kedrombrongan alias kebesaran hahahah
Ya itu lah proses, proses dimana perlahan aku mulai menemukan hal ternyaman. Aku pun tidak sedang merendahkan teman temanku yang belum memakai jilbab. Hanya saja, mungkin Allah belum datangkan hidayah untuknya. Aku yang sekarang ini pun, masih jauh dari yang baik. Masih banyak proses proses selanjutnya yang harus aku lalui. Memang panjang, tapi aku begitu menikmatinya. Untuk teman temanku yang jauh lebih baik dariku, ajaklah aku pada kebaikan diri dan perbaikan diri. Untuk teman temanku yang belum dihidayahkan Allah, semoga kelak kita dalam satu proses yang sama. Doakanlah teman teman kalian agar bisa berproses bersama.
Percayalah, akan kalian temukan berbagai kenyamanan ketika kalian sudah sampai pada proses ini.
Kalian akan lebih dihargai, dan terjaga kesehatannya.
Tapi satu hal pula yang ingin kusampaikan bahwa tentu ada banyak orang orang yang mendorongku untuk mampu sampai di proses ini. Jadi, selalu ajaklah temanmu untuk berproses dalam kebaikan. Bukankan bersama dalam hal kebaikan adalah hal yang menyenangkan?
" doakanlah saudarimu yang belum mendapat hidayahNya untuk menutup auratnya, doakanlah saudarimu yang masih dalam proses menuju kebaikan, doakanlah saudarimu yang sudah baik menurutmu untuk meng istiqomahkan apa yang sudah dia capai dalam prosesnya"
Sabtu, 01 April 2017
Hati-hati dengan cemburumu
Ketika hujan membawaku pada sebuah lamunan tentang masa lalu. Tetesan demi tetesan menenggelamkan ku pada sebuah cerita tentang kepahitan rasa cinta. Entah ini sebuah cinta yang tulus atau sebuah kecemburuan yang tidak wajar.
Sepertinya aku terjerat pada trauma untuk kehilanganmu, lagi. Rasanya begitu sulit untuk bisa bersikap biasa ketika melihatmu tertawa dan bercengkrama dengan perempuan lain. Apa aku yang terlalu berlebihan menjagamu? Atau ini sebuah rasa yang wajar untuk bisa menjagamu lebih baik lagi?
Aku tak membiarkanmu untuk tinggal diam dalam sangkar ku yang punya. Aku pun ingin engkau mampu terbang bebas menjelajahi berbagai belahan dunia yang ingin jau tapaki. Tapi apakah kau mau untuk bisa terus terbang mengajakku? Menjadikanku sebagai penawarmu ketika sayapmu mulai lelah.
Marah dan cemburu ketika melihat pria yang dicintai bercengkrama dan tertawa bahagia dengan perempuan lain adalah hal yang lumrah. Tapi ketika rasa cemburu itu meluap terlalu besar apakah itu akan membawa kebaikan?
Sungguh, pada hati ini tak ingin aku tanamkan rasa benci pada siapapun. Aku ingin menjadi teman untuk teman-temanmu. Aku tak ingin menjauhkanmu pada duniamu dengan teman-temanmu. Tapi, sekali lagi kusampaikan aku belum mampu untuk bisa bersikap wajar.
Sungguh... Dalam benak ini pun rasanya ingin menolak. Inginku hidup damai dengan masa lalu, bahkan pada masa sekarang yang masih akan terus terjadi, masa depan yang akan kita mulai.
Pernah terbesit dalam pikiran..
apa ini karena cintaku yang salah? Cinta yang seharusnya kutumbuhkan belum pada saatnya.
Ya tuhan, jangan jadikan aku sebagai golongan yang hatinya telah mati. Aku tau ini salah, kucintaiMu dan kucintai ciptaanmu. Saat itulah jiwa ini mulai maju mundur tak beraturan. Ketika aku mampu maju satu langkah, namun berikutnya aku harus munduh dua langkah. Begitu seterusnya. Apa yang harus ku perbuat?
Senantiasa ku berdoa untuk dijauhkan dari segala penyakit hati. Agar aku tak ingin menyakiti orang-orang yang tak mengerti kenapa mereka harus dibenci. Sungguh, tidak ada seorangpun yang menginginkan membenci siapapun. Maafkanlah aku yang masih jauh dari kebaikan dan kesempurnaan untuk bisa memuliakan teman-teman dan saudari-saudari ku.
Dan... Pada saat hati ini mulai terpancing untuk menunjukkan amarahnya, aku hanya ingin tuhan bersedia menjaga cinta yang ada dalam hatiku dan hatimu. Mengendalikan ku dari akuhnya hati dan kesombongan diri. Hati yang sanggup membenci seseorang. Menjadi kan hati lebih menghargai diri dan lembutnya jiwa. Bantulah aku untuk bisa lebih memahami mu dan lingkunganmu. Agar aku mampu mendampingimu dan terbang lagi bersamamu.
Sepertinya aku terjerat pada trauma untuk kehilanganmu, lagi. Rasanya begitu sulit untuk bisa bersikap biasa ketika melihatmu tertawa dan bercengkrama dengan perempuan lain. Apa aku yang terlalu berlebihan menjagamu? Atau ini sebuah rasa yang wajar untuk bisa menjagamu lebih baik lagi?
Aku tak membiarkanmu untuk tinggal diam dalam sangkar ku yang punya. Aku pun ingin engkau mampu terbang bebas menjelajahi berbagai belahan dunia yang ingin jau tapaki. Tapi apakah kau mau untuk bisa terus terbang mengajakku? Menjadikanku sebagai penawarmu ketika sayapmu mulai lelah.
Marah dan cemburu ketika melihat pria yang dicintai bercengkrama dan tertawa bahagia dengan perempuan lain adalah hal yang lumrah. Tapi ketika rasa cemburu itu meluap terlalu besar apakah itu akan membawa kebaikan?
Sungguh, pada hati ini tak ingin aku tanamkan rasa benci pada siapapun. Aku ingin menjadi teman untuk teman-temanmu. Aku tak ingin menjauhkanmu pada duniamu dengan teman-temanmu. Tapi, sekali lagi kusampaikan aku belum mampu untuk bisa bersikap wajar.
Sungguh... Dalam benak ini pun rasanya ingin menolak. Inginku hidup damai dengan masa lalu, bahkan pada masa sekarang yang masih akan terus terjadi, masa depan yang akan kita mulai.
Pernah terbesit dalam pikiran..
apa ini karena cintaku yang salah? Cinta yang seharusnya kutumbuhkan belum pada saatnya.
Ya tuhan, jangan jadikan aku sebagai golongan yang hatinya telah mati. Aku tau ini salah, kucintaiMu dan kucintai ciptaanmu. Saat itulah jiwa ini mulai maju mundur tak beraturan. Ketika aku mampu maju satu langkah, namun berikutnya aku harus munduh dua langkah. Begitu seterusnya. Apa yang harus ku perbuat?
Senantiasa ku berdoa untuk dijauhkan dari segala penyakit hati. Agar aku tak ingin menyakiti orang-orang yang tak mengerti kenapa mereka harus dibenci. Sungguh, tidak ada seorangpun yang menginginkan membenci siapapun. Maafkanlah aku yang masih jauh dari kebaikan dan kesempurnaan untuk bisa memuliakan teman-teman dan saudari-saudari ku.
Dan... Pada saat hati ini mulai terpancing untuk menunjukkan amarahnya, aku hanya ingin tuhan bersedia menjaga cinta yang ada dalam hatiku dan hatimu. Mengendalikan ku dari akuhnya hati dan kesombongan diri. Hati yang sanggup membenci seseorang. Menjadi kan hati lebih menghargai diri dan lembutnya jiwa. Bantulah aku untuk bisa lebih memahami mu dan lingkunganmu. Agar aku mampu mendampingimu dan terbang lagi bersamamu.
Langganan:
Komentar (Atom)